Ads


 

Sabtu, 07 Mei 2022, Mei 07, 2022 WIB
Last Updated 2022-05-07T04:38:08Z
Internasional

Raksasa Media Sosial Gagal Bertindak atas Kebencian Anti-Muslim


Foto : (istimewa) Ilustrasi

JOURNALTELEGRAF-Perusahaan media sosial gagal menindak 89% postingan yang berisi kebencian anti-Muslim dan konten Islamofobia yang dilaporkan kepada mereka, menurut sebuah laporan baru-baru ini.

"Laporan ini mengungkap bahwa perusahaan media sosial, termasuk Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, dan YouTube, gagal menindak 89% postingan berisi kebencian anti-Muslim dan konten Islamofobia yang dilaporkan kepada mereka," kata Center for Countering Digital Hate. CCDH) dilansir dari dailysabah.com, Sabtu (7/5/2022).

Dalam pernyataan bersama pada tahun 2019, Meta (saat itu Facebook), Twitter dan Google berkomitmen untuk menegakkan seruan Christchurch untuk menghilangkan konten teroris dan ekstremis kekerasan secara online.

Raksasa media sosial menyatakan bahwa mereka akan tegas dalam "komitmen mereka untuk memastikan mereka melakukan semua yang mereka bisa untuk memerangi kebencian dan ekstremisme yang mengarah pada kekerasan teroris."

"Sekali lagi, siaran pers mereka terbukti tidak lebih dari janji kosong," kata laporan tersebut.

Bahkan, peneliti CCDH melaporkan 530 postingan yang berisi konten yang mengganggu, fanatik, dan tidak manusiawi yang menargetkan Muslim melalui karikatur rasis, konspirasi, dan klaim palsu.

Selain itu, postingan tersebut dapat dilihat setidaknya 25 juta kali. Banyak konten yang melecehkan dengan mudah dapat diidentifikasi, namun masih ada kelambanan, katanya.

Diantaranya menyatakan bahwa Instagram, TikTok dan Twitter memungkinkan pengguna untuk menggunakan tagar seperti #deathtoislam, #islamiscancer dan #ragheadi, laporan itu lebih lanjut mengatakan konten yang menyebar menggunakan tagar menerima setidaknya 1,3 juta tayangan.

Konten semacam itu semakin membahayakan komunitas ini dengan mendorong "perpecahan sosial, menormalkan perilaku kasar, dan mendorong serangan dan penyalahgunaan offline," jelasnya.

"Lebih buruk lagi, platform mendapat untung dari kebencian ini, dengan senang hati memonetisasi konten, interaksi, dan perhatian serta bola mata yang dihasilkan. Bagi mereka, kebencian adalah bisnis yang baik," katanya.


Editor : Ewin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar