Minahasa

Media Cetak Diujung Tanduk dan Nasib Loper Koran Terakhir di Kota Bitung

Kamis, 24 Februari 2022, 18.16 WIB Last Updated 2022-02-24T10:16:19Z
masukkan script iklan disini



Foto : Didi Kapantouw, Penjual Koran di Kota Bitung (Licin)



JOURNALTELEGRAF - Hampir 22 tahun berprofesi sebagai penjual koran (Loper), Didi Kapantauw warga Kelurahan Pakadoodan, Kecamatan Maesa, Kota Bitung masih terus menekuni pekerjaannya hingga saat ini.



Ketika ditemui Journaltelegraf.com, di salah satu ruas jalan di Kota Bitung dimana dia setiap pagi hingga menjelang siang menawarkan koran kepada orang yang melewati daerah itu,  Didi sapaan pria berusia 65 tahun itu mengaku berjualan koran sekarang dengan dulu sudah sangat jauh berbeda. Dulu, pria yang memiliki tiga putra ini biasa menjual 50 eksemplar koran per media cetak setiap harinya. Sekarang, Didi hanya bisa menjual 4 jenis koran yang masih terbit dengan masing masing 15 eksemplar per jenisnya.


Foto : Didi Kapantouw, Loper Koran di kota Bitung (Licin)


"Sekarang cuma bisa bajual so paling banya 15 eksemplar setiap media, deng sekarang media cetak so kurang, sisa Manadopost, Tribun Manado, Harian Komentar dan Harian Metro,so nda sama deng dulu," jelasnya, Kamis (24/02/2022/) dengan aksen daerah yang kental.




Hampir satu dasawarsa terakhir, nasib media cetak, khususnya surat kabar harian (Koran) kian meredup, imbas dari  kemunculan  media online atau media siber yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan dan  perkembangan  teknologi informasi.




Menurut cerita Didi, saat koran masih berjaya, dia biasanya  berkeliling menawarkan koran menggunakan sepeda hampir setengah Kota Bitung. Itu pula yang menyebabkan dia harus bolak balik ke rumah sakit akibat mengalami kecelakaan.



"Saya jualan koran tahun 2000 pertama kalinya, kepala saya terbentur waktu jatuh dari sepeda, dulu saya jualan koran keliling pake sepeda,  waktu itu orang belum baca berita di handphone sama dengan sekarang," katanya.



Seiring dengan derasnya perkembangan media online dan juga media sosial, membuat profesi Didi Kapantauw pun berada di ujung tanduk, akibat arus informasi dan berita yang makin mudah dijumpai diberbagai platform digital. Meski berpikir akan kembali ke profesi awalnya sebelum menjadi loper koran, namun Didi tetap yakin media cetak atau koran masih akan bertahan.



"Kalau koran so nda terbit baru kita brenti bajual, selama masih ada koran, kita tetap bajual koran karena cuma itu kita pe mancari selama ini. Mar kalo so nda ada koran boleh mo jual, kita somo ba kenek manjae," ujar pria yang menjadi loper koran satu satunya yang tersisa di Kota Bitung ini.



Reporter/Editor : Arhamdila

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Bolmut, Sangihe,

+