Ads


 

Senin, 05 Oktober 2020, Oktober 05, 2020 WIB
Last Updated 2020-10-04T23:45:32Z
Opini

Genderang Pertarungan Politik di Kota Cakalang

JOURNALTELEGRAF - Pesta demokrasi dikota nyiur melambai sudah dimulai...

Kota dengan potensi pelabuhannya, perikanannya,    industrinya, pariwisatanya, jasanya dll. Akan kembali memilih calon pemimpinya... ehh salah calon pemimpinnya.

Foto : DR. Arianto Kadir, Akademisi


Akankah demokrasi yg disuguhkan mampu membangun kedaulatan rakyat kota Bitung??? Ataukah yg berdaulat hanya pemimpinnya??? Para pemodal yg mengusungnya?? Wallahu a'lam


Pertanyaan seperti ini bisa lahir seiring fakta sosial-politik yang blm berpihak pada perubahan kesejahteraan masyarakat... masih terdapat beberapa titik kumuh ditengah kota..


Lantas bagaimana dgn fakta demokrasi yg selalu digaungkan...


Fakta pertama, setiap perhelatan pesta demokrasi selalu diwarnai kebisingan diruang publik, karena antusiasme masyarakat yang sedang digembirakan oleh harmoni politik, musikalisasi janji2 politik yang dirasakan dan hadir didepan matanya. 


Walaupun faktanya partisipasi politik masyarakat kota Bitung sebagai roh demokrasi  selalu menurun. 


Setiap momentum pergantian pemimpin di kota cakalang ini tidak sepi dari pelibatan masyarakat pemilih… mungkin karena systim politik kita mengenal konsep massa mengambang, sehingga para aktor berusaha mendesain panggung politik secara apik dan sesempurna mungkin.. 


rakyat pemilih dihibur  dengan janji-janji manis namun terkadang palsu, rakyat dimanjakan dengan pestapora masa depan semu, hanya dalam rangka mendongkrat elektabilitas...


Padahal... Betapa besar harapan rakyat pada kandidat yang di usung, karena nalar mereka sudah teracuni oleh virus ganas politik pencitraan...


Fakta kedua, akhirnya yang diperoleh rakyat kecil adalah siklus kekecewaan, yang berulang-ulang: merasa kecewa lagi, kecewa lagi, dan lagi. Akhirnya rakyat menjadi apatis, dan berakibat banyak yg bepikiran pragmatis, berpikir jangka pendek... pokoknya warna merah anti air pasti beres...


Silih bergantinya sosok pemimpin baru selalu membawa harapan baru dan kekecewaan baru dalam realitas selanjutnya setelah sang pemimpin berkuasa. 


Analisa saya: 

Jangan-jangan  yang kita pilih yang kita anggap peduli pada rakyat kecil, sejatinya bukanlah sosok yang peduli pada rakyat kecil, tetapi persepsi yang kita bangun sendiri yang seolah-olah mencitrakan kandidat calon walikota yg kita usung, peduli rakyat kecil. Padahal faktanya sangat berbeda bahkan bertolak-belakang. 


Fakta politiknya.. karena Kita sendiri dgn hayalan sendiri membangun persepsi tentang sosok tertentu,

Sehingga kita menetapkan pilihan bukan karena kita mengenal sosok kandidat walikotanya dgn baik.


Bukanlah fakta sosok yg sevenarnya sehingga menggiring kita memilihnya. tetapi propaganda politik Kandidat calon walikota dan Tim Suksesnya yang telah menggiring persepsi kita, telah mampu menggiring opini publik sesuai konstruksi sosial-psikologi massa yang telah mereka analisa sebelumnya. Bahwa kecenderungan rakyat pemilih adalah sosok seperti ini… yang santun, siap melayani dan merakyat. 


Gampangnya, terdapat sejenis mobilisasi kesadaran terhadap masyarakat tentang sosok ideal sebagai pemimpin masa depan di Kota Bitung, yang peduli rakyat jelata, santun, melayani dan merakyat… tetapi itu adalah hayalan kontestan pemilih yang dilekatkan pada sosok kandidat calon walikita yg diusungnya… dibangun citra diri yg semu yg telah merampas perhatian publik dan berhasil membangun opini publik.


padahal sejatinya kandidat calon tersebut tidak demikian adanya… tidak memiliki rekam jejak keberpihakannya pada eakyat kecil, malah yg ada sikap egois yg hanya mementingkan dirinya, keluarganya dan konco2nya.


Atau kalau tidak, ternyata kandidat calon walikota yg diusung hanyalah wayang politik yang diatur dalangnya. Menurut saya Ini namanya politik racikan bumbu mie sedaaap …. mie sedaaaapp dengan rasa kaldu ayam, siapapun pasti tergiur ingin merasakannya…. namun faktanya bukan kenikmatan ayam sesungguhnya yang dirasakan, melainkan sekedar rasanya saja. 


Itulah panggung politik penuh dengan intrik2 dan jebakan prank. 


di aras publik frontstage yang sangat kaya nilai, etika sosial, norma dan desain kamera, mereka terlihat manis, santun, dan peduli… padahal dibelakang pangggung atau backstage yang bebas nilai bebas etika dan norma sosial mereka tertawa terbahak-bahak, mereka dengan gagahnya sedang menertawakan rakyatnya yang sangat mudah dibohonginya. 


Bahkan ada yang sampai pada taraf fanatisme buta, dengan menggunakan jargon2 suku dan agama... sehingga logika rasionalnya tidak main, dengan menampakkan kebodohannya ditengah publik, petentang petenteng membela kandidat calonnya... apapun yg terjadi dia yg harus menang...

Masya Allah...

Wallahu a'lam bissawab


Mari kita satukan nalar kemanusiaan kita, nalar religiusitas kita, berpijak pada derita dan jeritan masyarakat kita... dengarkan  hati nurani mereka, dengarkan detak jantung kehidupan mereka...

Perubahan apa yg mereka butuhkan dan bagaimana para calon walikota ini merealisasikanya...


Oleh : DR. Arianto Kadir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar